Tugas Paper Mata Kuliah
Keorganisasian
“Konflik dalam
Organisasi”
Tugas ini disusun guna untuk
memenuhi tugas mata kuliah Keorganisasian
Dosen pengampu : Raras
Gestika Rosadi, M.Pd.
Disusun oleh:
DENNY PRASTYO
12416241036
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Yogyakarta
2013
Pendahuluan
Tidak bisa
dipungkiri, bahwasanya pada era modern sekarang ini, terjadi suatu gebrakan
kemajuan pada berbagai bidang kehidupan yang tidak hanya terpusat pada satu jenis
bidang saja, namun dapat dipastikan semua bidang kehidupan mengalami suatu
kemajuan. Contoh riilnya terjadi kemajuan di bidang teknologi dan sosial
budaya, yang mendorong perkembangan berbagai aspek kehidupan manusia
diantaranya dalam berkumpul dan hidup berkelompok. Sebagai suatu bentuk
kumpulan manusia dengan ikatan-ikatan atau syarat-syarat tertentu,
Individu-individu atau kelompok-kelompok yang saling bergantung menciptakan
hubungan kerja yang melampau batas-batas organisasi agas setiap organisasi dapat
menunjukkan kinerja yang efektif baik antar individu maupun antar kelompok.
Oleh karena itu organisasi telah pula berkembang dalam berbagai aspek termasuk
ukuran dan kompleksitas.
Semakin
besar ukuran suatu organisasi semakin cenderung menjadi kompleks keadaanya.
Kompleksitas ini menyangkut berbagai hal seperti kompleksitas alur informasi,
kompleksitas komunikasi, kompleksitas pembuat keputusan, kompleksitas
pendelegasian wewenang dan sebagainya. Kompleksitas lain adalah sehubungan
dengan sumber daya manusia, seperti kita ketahui sehubungan dengan sumber daya manusia ini
dapat diidentifikasi pula berbagai kompleksitas seperti komleksitas jabatan,
kompleksitas tugas, kompleksitas
kedudukan dan status, kompleksitas hak dan wewenang dan lain-lain.
Komleksitas ini dapat merupakan sumber potensial untuk timbulnya konflik dalam
organisasi, terutama konflik yang berasal dari Sumber daya manusia, dimana
dengan berbagai latar belakang yang berbeda tentu mempunyai tujuan yang berbeda
pula dalam tujuan dan motivikasi mereka dalam bekerja. Selain hal dalam
komleksitasan diatas sebagai pemicu timbulnya konflik, konflik yang muncul pada
organisasi dimungkinkan terjadi pula dalam proses pencapaian tujuan yang
partisipatif. Hal ini sangat mungkin
terjadi benturan antar anggota baik bersifat langsung, terbuka, maupun tidak
langsung atau tertutup. Benturan ini masing-masing perbedaan yang bermuara pada
konflik kemudia semakin tak terelakkan.
Kecakapan seorang pemimpin
yang ingin memajukan organisasinya harus mampu memahami faktor-faktor apa saja
yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik di dalam individu maupun antar
perorangan dan konflik di dalam kelompok dan konflik antar kelompok. Terlebih
bila kita menyadari mustahil menghilangkan konflik dari dalam organisasi,
sehingga yang diperlukan bukan menghindari organisasi namunlebih pada mengelola
organisasi.
Batasan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah diatas, maka kami merumuskan beberapa batasan
masalah terkait konflik dalam organisasi diantaranya, definisi konflik, pelaku
konflik dalam suatu organisasi, penyebab konflik antar kelompok, cara mengelola
atau penanganan konflik individu dan kelompok dalam organisasi.
Pembahasan
A.
Definisi Konflik
Seringkali
kita tidak dapat membedakan
antara konflik dengan serangan. Selama
ini kita sering menyamaartikan keduanya, khususnya
dalam mengasosiasikannya
dengan nuansa negatif yang
sama-sama
kental. Konflik umumnya
diartikan sebagai pertentangan. Hal ini senada dengan Owens (1995: 147) yang mendefinisikan konflik sebagai suatu hal yang mucul bila terdapat ketidaksesuaian atau pertentangan. Adapun Robbins
(1996: 124) menguraikan konflik
sebagai suatu proses yang
timbul
karena pihak pertama merasa bahwa
pihak lain memberi pengaruh
negatif atau akan
segera mempengaruhi secara negatif terhadap yang diharapkan
oleh pihak pertama.
Sedangkan Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah suatu
proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh
atas
pihak-pihak yang terlibat baik
pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Menurut Luthans
(1981) konflik adalah
kondisi yang
ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri
diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan.
Oleh karena konflik
bersumber
pada
keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik.
Persaingan sangat erat hubungannya denga konflik karena dalam persaingan beberapa pihak menginginkan hal yang sama tetapi hanya satu yang mungkin mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan konflik namun mudah menjurus ke aarah konflik, terutuma bila ada persaingan yang menggunakan cara-cara yang bertentengan dengan aturan yang disepakati. Permusuhan
bukanlah konflik karena orang yang terlibat konflik bisa saja tidak memiliki rasa permusuhan.
Sebaliknya orang yang saling bermusuhan bisa saja tidak berada dalam keadaan konflik.
Konflik sendiri tidak selalu harus dihindari karena tidak selalu negatif akibatnya.
Berbagai konflik yang ringan dan dapat dikendalikan
(dikenal dan ditanggulangi) dapat berakibat positif bagi mereka yang terlibat maupun bagi organisasi.
Dengan demikian sesungguhnya konflik dapat muncul di mana saja, kapan saja, dan
pada siapa pun selagi ada ketidakcocokan atau pertentangan.
B. Pelaku konflik dalam
Organisasi
Sebagai kumpulan atas beberapa
orang, maka organisasi
tidak lepas dari interaksi
antar anggotanya. Dalam memahami peran dan
bergaul satu sama lain
itulah konflik kerap muncul
baik dalam koridor aktivitas formal maupun
informal.
Mengacu pada Usman
(2004: 223) secara alamiah
ada lima bentuk konflik yang didasarkan atas pelaku konflik:
1. konflik dengan
diri sendiri
2. konflik
diri sendiri dengan seseorang
lainnya
3. konflik
diri sendiri dengan kelompok
4. konflik
kelompok satu dengan kelompok
lainnya dalam organisasi
5. konflik
antar organisasi.
Uraian ini akan mengkaji bentuk
konflik yang terjadi pada poin 2,
3 dan 4. Konflik dengan diri sendiri dan konflik antar organisasi sementara akan disisihkan dari pembahasan.
Asumsinya, konflik dengan diri sendiri kurang dapat langsung dikelola oleh organisasi
karena variabel yang
terlibat kadang sulit ditangkap dan sering berada
di luar kehidupan organisasi itu
sendiri. Adapun bentuk konflik antar
organisasi biasanya mengarah pada persaingan kualitas,
pasar, dan prestise sehingga
akan terlalu jauh bila esensi kinerja yang terkait langsung dengan konflik juga
menyinggung
ketiga hal tersebut.
C. Penyebab konflik antar kelompok
Setiap
kelompok pasti memiliki setidaknya konflik kecil dengan kelompok lain yang
berinteraksi dengannya. Kecenderungan ini dikenal sebagai “ hukum konflik dalam
organisasi” (the law of interdependence conflict). Dalam subab ini kita
akan membahas 4 faktor penyebab konflik antar kelompok yang dianggap penting,
diantaranya ketergantungan kerja, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi dan
tuntutan yang mengikat antar spesialis.
a.
Ketergantungan kerja
Ketergantungan
kerja (work interdependence) terjadi ketika dua (atau lebih) kelompok
oeganisasi harus saling bergantung satu sama lain untuk menyelesaikan pekerjaan
mereka. Potensi konflik dalam situasi seperti ini terentang dari tingkat yang
paling rendah hingga yang paling tinggi, tergantung karakteristik dasar
ketergantungannya. Ada tiga jenis saling ketergantungan diantara kelompok,
yaitu:
a.)
Saling ketergantungan yang
dikelompokkan. Saling ketergantungan yang dikelompokkan tidak memerlukan
adanyaa interaksi diantaraa kelompok sebab setiap kelompok, bertindak secara
terpisah. Bagaimanapun, kinerja yang dihimpun dari semua kelompok menunjukkan
seberapa berhasil organisasi itu.
b.)
Saling ketergantungan yang berurutan.
Saling ketergantungan yang berurutan memerlukan satu kelompok untuk
menyelesaikan tugasnya. Tugas-tugas ditampilkan dalam bentuk yang berurutan.
c.)
Saling ketergantungan timbal
balik. Saling ketergantungan timbal balik memerlukan hasil dari tiap untuk dijadikan
masukan bagi kelompok lain dalam organisasi.
b.
Perbedaan Tujuan
Idealnya,
kelompok-kelompok yang berinteraksi akan selalu melihat tujuan-tujuan kelompok
sebagai tujuan yang saling melengkapi satu sama lain, dan karenanya berperilaku
dengan cara-caraa yang mendukung pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Namun
nyatanya, ini sering kali tidak terjadi. Beberapa masalah terkait perbedaan
tujuan dapat menciptakan masalah. Karena perbedaan tujuan inilah, konflik dapat
terjadi, ketika kelompok-kelompok saling berinteraksi, dimana setiap kelompok
memiliki tijuan yang berbeda dalam suatu organisasi. Konflik antarkelompok yang
timbul dari perbedaan tujuan tidak berguna bagi organisasi secara keseluruhan,
juga tidak berguna bagi pihak ketiga termasuk klien-klien organisasi.
c.
Perbedaan Persepsi
Perbedaan tujuan
dapat muncul bersamaan dengan perbedaan persepsi mengnai kenyataan, dan ketidak
setujuan atas apa yang dianggap sebagai penyebab suatu kejadian dapat
menciptakan suatu konflik. Banyak faktor menyebabkan kelompok-kelompok
organisasi memiliki persepsi yang berbeda mengenai kenyataan. Faktor faktor
utamanya meliputi inkongruensi satatus (menyangkut status relatif
kelompok-kelompok yang berbeda-beda), persepsi yang tidak akurat, perbedaan
sudut pandang.
d.
Tuntutan yang Mengikat Akan
Spesialis
Konflik di antar
staf spesialis dan manajemen lini yang generalis merupakan hal yang biasa dalam
konflik antar kelompok. Orang-orang manajemen lini dan staf saling menyatakan
pandangannya dan peranannya dalam organisasi dari perspektif yang berbeda.
Dengan berkembangnya keahlian teknis disemua bidang organisasi, peranan staf
dapat diharapkan meningkat. Meningkatnya kecanggihan, spesialisasi, dan
kerumitan di banyak organisasi membuat konflik manajemen lini dan staf menjadi
perhatian utama dalam mengelola perilaku organisasi.
D. Cara Mengelola atau Penanganan Konflik Individu dan Kelompok dalam
Organisasi.
1. Penanganan Konflik Individu
Untuk menangani konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan
diri sendiri dan juga pihak-pihak
yang
mempunyai konflik. Ada beberapa cara untuk menangani konflik antara lain :
·
Introspeksi diri
·
Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat.
·
Identifikasi sumber konflik
·
Mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan
memilih yang tepat.
Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam
penanganan konflik :
a. Berkompetisi
Tindakan
ini dilakukan jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri di atas
kepentingan pihak lain. Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi
saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih
utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang –
kalah (win-win solution) akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa
dirugikan dan dapat menjadi konflik yang berkepanjangan. Tindakan ini bisa
dilakukan dalam hubungan atasan – bawahan, dimana atasan menempatkan
kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan.
b.Menghindari konflik
Tindakan ini
dilakukan jika salah
satu pihak menghindari
dari situsasi tersebut secara fisik
ataupun psikologis. Sifat
tindakan ini hanyalah menunda
konflik yang terjadi. Situasi
menag kalah terjadi
lagi disini. Menghindari konflik
bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana,
mebekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang baik bisa terjadi jika pada
saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah lagi jika salah satu
pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki hutang menyelesaikan persoalan
tersebut.
c. Akomodasi
Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan
beberapa kepentingan sendiri
agar
pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga sebagai self sacrifying behaviour. Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa
kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
d. Kompromi
Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama –sama penting dan hubungan baik menjadi yang uatama. Masing-masing pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya
untuk mendapatkan situasi menang-menang (win-win solution)
e. Berkolaborasi
Menciptakan situasi menang-menag dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan
antar pribadi menjadai hal yang harus kita pertimbangkan.
2.
Penanganan konflik kelompok
Salah satu cara
menyelesaikan konflik adalah melihat sejauh mana kelompok yang terlibat
memiliki fokus internal dan eksternal terhadap starategi resolusi yang
digunakan. Fokus internal menunjukkan sejauh mana kelompok berupaya
mengutamakan kepentingan-kepentingan sendiri dalam sebuah konflik. Sebuah fokus
eksternal menunjukkan sejauh mana kelompok berupaya menyelesaikan apa yang
menjadi kepedulian atau kepentingan kelompok lain dalam konflik tersebut.
a.
Mendominasi
Dalam pendekatan dominasi (domination), sebuah
kelompok yang berusaha menyelesaikan konflik memberikan fokus maksimal pada
upaya memenuhi hal-hal yang menjadi kepedulian kelompok tersebut, dan pada saat
yang bersamaan memberikan fokus yang minimal pada upaya memenuhi kepedulian
kelompok lain.
b.
Mengkomodasi
Pendekatan penyelesaian masalah (problem
solving) mungkin mewakili apa yang secara teoritis dilihat sebagai
pendekatan ideal atau terbaik dalam suatu penyelesaian konflik. Meski demikian,
pendekatan ini adalah sebuah pendekatan yang sangat sulit diimplementasikan
secara efektif. Pendekatan penyelesaian masalah, yang disebut juga pendekatan
kolaborasi atau integrasi, berupaya menyelesaikan konflik dengan menekankan
secara maksimum kepentingan kedua kelompok. Upaya penyelesaian masalah baik
membutuhkan kesedian kedua kelompok yang bersengketa untuk bekerja sama mencari
penyelesaian terpadu yang dapat memuaskan kebutuhan semua pihak terkait.
c.
Menghindar
Sering kali, beberapa cara dapat digunakan
untuk menghindari terjadinya konflik. Walaupun menghindari konflik (avoiding
conflict) tidak akan memberikan keuntungan jangka panjang pendekatan ini
dapat menjadi strategi yang efektif dan tepat dalam beberapa situasi konflik
terutama saat menghindari masalah ditunjukkan sebagai alternatif sementara.
Menghindari konflik juga dapat memberikan waktu ekstra untuk mencari informasi
yang tepat bagi terciptanya solusi jangka panjang.
d.
Berkompromi
Pendekatan kompromi (commpromizing)
adalah metode taradisional dalam mengatasi konflik antar kelompok. Dengan
melakukan kompromi, tidak ada perbedaan pihak yang menang dan pihak yang kalah,
dan kesepakatan yang dicapai umumnya bukan kesepakatan yang ideal bagi kedua
kelompok. Kompromi dapat menjadi sangat efektif apabila tujuan yang dicari ( misalnya
uang) dapat dibagikan dengan cukup adil. Jika hal ini tidak dimungkinkan, salah
satu kelompok harus merelakan sesuatu yang berharga sebagai bagian kompromi.
Penutup
Seringkali
kita tidak dapat membedakan
antara konflik dengan serangan. Selama
ini kita sering menyamaartikan keduanya, khususnya
dalam mengasosiasikannya
dengan nuansa negatif yang
sama-sama
kental. Konflik umumnya
diartikan sebagai pertentangan. Beberapa ahli telah banyak mengemukakan
pendapatnya mengenai konflik dalam
organisasi diantaranya Owens, Robbins dan Luthans. Dengan
demikian sesungguhnya konflik dapat muncul di mana saja, kapan saja, dan pada
siapa pun selagi ada ketidakcocokan atau pertentangan.
Pelaku konflik dalam organisasi menurut Usman (2004: 223)
secara alamiah ada lima
bentuk konflik yang didasarkan atas pelaku konflik:
1. konflik dengan
diri sendiri
2. konflik
diri sendiri dengan seseorang
lainnya
3. konflik
diri sendiri dengan kelompok
4. konflik
kelompok satu dengan kelompok
lainnya dalam organisasi
5. konflik antar organisasi.
Setiap
kelompok pasti memiliki setidaknya konflik kecil dengan kelompok lain yang
berinteraksi dengannya. Empat faktor penyebab konflik antar kelompok yang dianggap penting,
diantaranya ketergantungan kerja, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi dan
tuntutan yang mengikat antar spesialis.
Untuk menangani konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan
diri sendiri dan juga pihak-pihak
yang
mempunyai konflik. Ada beberapa cara untuk menangani konflik antara lain :
·
Introspeksi diri
·
Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat.
·
Identifikasi sumber konflik
·
Mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan
memilih yang tepat.
Salah
satu cara menyelesaikan konflik adalah melihat sejauh mana kelompok yang
terlibat memiliki fokus internal dan eksternal terhadap starategi resolusi yang
digunakan. Fokus internal menunjukkan sejauh mana kelompok berupaya
mengutamakan kepentingan-kepentingan sendiri dalam sebuah konflik. Sebuah fokus
eksternal menunjukkan sejauh mana kelompok berupaya menyelesaikan apa yang
menjadi kepedulian atau kepentingan kelompok lain dalam konflik tersebut.
Daftar
Pustaka
http://galerymakalah.blogspot.com/2013/04/makalah-tentang-konflik.html.
Diakses tanggal 29 September 2013.
http://rakhmatmalik.blogspot.com/2010/11/makalah-konflik-organisasi_06.html.
Diakses tanggal 29 September 2013.
Jvancevick,
John M, Robert, Konopaske, and Michael T. Mateson. 2006. Perilaku dan
Manjemen Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Rivai,
Vethzal. 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Rajawali
Pers.
Steiner,
George A, and John B Miner. 1997. Kebijakan dan Strategi Manajemen.
Jakarta: Erlangga.
Usmara,
A., and Lucas Dwiantara. 2004. Strategi Organisasi. Yogyakarta: Asmara
Books.
.gif)