Tugas Peper Mata Kuliah
Manusia dan Lingkungan
“Keterkaitan
Analisis Dampak Lingkungan antara Interaksi Manusia dengan Lingkungan Perairan”
Tugas
ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Manusia dan Lingkungan
Dosen pengampu :Satriyo Wibowo, S.Pd.
Disusun oleh:
1. Denny
Prastyo 12416241036
2. Sidhik
Pawoko 12416241037
3. Desi Natalia 12416141043
4. Ary
Novian Tri Uatami 12416241045
5. Wahyu
Nur Dwi Utami 12416244002
Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas
Ilmu Sosial
Universitas
Negeri Yogyakarta
2013
Keterkaitan Analisis Dampak Lingkungan antara Interaksi
Manusia dengan Lingkungan Perairan
Pendahuluan
Dalam
melangsungkan kegiatan kehidupan dan penghidupannya, manusia pada hakekatnya
merupakan bagian dari alam. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari alam dan
akan selalu tergantung pada lingkungan alamnya. Karena kebutuhan untuk hidup
manusia akan mengekploitasi sumber daya alam. Alam akan selalu memberi semua
miliknya yang diambil manusia. Namun pada dewasa ini dengan perkembangan penduduk
yang demikian pesat aktivitas untuk mengekploitasi mengarah kehabis-habisan cenderung
meningkat. Manusia lebih mementingkan pemenuhan kebutuhannya tanpa melihat
turunnya keseimbangan alam. Akibatnya alam membentuk keseimbangan baru yang
pada intinya merugikan manusia. Degradasi lingkungan meningkat, banjir dan
longsor bertambah baik secara kualitas dan kuantitas.
Pembangunan
kota ataupun wilayah harus dipandang sebagai sesuatu yang integrated, comprehensive and interdependency. Jhon Muir (1994)
menyimpulkan Integrated
sebagai pembangunan tidak lagi sektoral dan parsial
namun terpadu dalam program- programnya dan pelaksanaannya, terkoordinasi
dengan semua yang terlibat sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Comprehensive (menyeluruh) berarti
melibatkan semuanya dalam pembangunan, instansi pemerintah, perguruan tinggi,
investor, pengembang, swasta dan masyarakat. Interdependency yaitu semua sektor dan semua disiplin saling
tergantung dan tidak ada yang superior sesuai dengan program makronya (master plan) sehingga pada tahapan
mikronya tidak terjadi benturan- benturan maupun konflik kepentingan. Disamping
itu kegiatan dapat dilakukan dengan berdasar
skala prioritas.
Contoh
konkritnya: kita ingin memilih dan menganalisis satu jenis pembangunan saja
(misal sistem jaringan drainase) maka ternyata drainase tersebut terikat oleh
sistem jaringan transportasi, gedung- gedung, jaringan telekomunikasi, dll.
Belum lagi keterkaitan sistem jaringan ini dengan disiplin ilmu lain seperti
aspek- aspek sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya.
Dampak
aspek pembangunan berwawasan lingkungan perlu diperhatikian bahwa sumberdaya
alam bersifat terbatas namun peningkatan jumlah penduduk yang membutuhkan
sumberdaya alam ini meningkat. Permasalahannya adalah mencari keseimbangan antara
kemampuan sumberdaya alam dengan kebutuhan akibat peningkatan penduduk sehingga
dapat dilakukan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan
berkelanjutan yang ada bukan hanya terkait pada aspek sumber daya alam yang
tidak dapat diperbaharui saja, sekaligus sangat perlu sekali untuk di adakan pembangunan
berkelanjutan, akan tetapi pembangunan berkelanjutan juga di anggap sangat perlu
ditekankan pada sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Menurut berbagai pakar hidrologi, air yang terdapat di
permukaan bumi ini tidak akan berkurang volumenya, hal ini dikarenakan air
mengalami siklus yang berlangsung secara terus menerus. Oleh karena itu air
dikatakan sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Meskipun
air dikatakan sebagai SDA yang dapat diperbaharui sekaligus jumlah volumenya
yang tidak akan berkurang di permukaan bumi ini, namun tidak serta merta keadaan
air yang terdapat di permukaan bumi ini tidak mengalami suatu permasalahan yang
serius. Hal ini justru sangat bertolak belakang dengan uraian diatas. Dewasa ini
kondisi air atau perairan yang ada mengalami permasalahan
yang lebih menjerungus pada aspek kualitas air. Air yang hakikatnya sebagai keputuhan pokok makluk hidup tanpa
terkecuali manusia mengalami suatu penurunan terutama aspek kualitasnya, hal
ini dilatarbelakangi karena adanya interaksi yang berlangsung secara
terus-menerus antara yang bersangkutan makluk hidup (manusia) dengan lingkungan
perairan.
Batasan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang diatas, kami memberikan suatu batasan masalah mengenai
keterkaitan analisis dampak lingkungan antara interaksi manusia dengan
lingkungan perairan yang meliputi, bentuk interaksi yang ada selama ini antara
manusia dengan lingkungan perairan, kondisi lingkungan perairan yang ada selama
ini yang memungkinkan adanya interaksi manusia dengan perairan, kondisi
kualitas air yang ada,
bentuk limbah yang dihasilkan dari adanya interaksi manusia dengan lingkungan
perairan, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dapat dilakukan manusia dalam
mengembalikan lingkungan perairan yang telah mengalami degradasi.
Pembahasan
1.
Bentuk interaksi yang
ada selama ini antara manusia dengan lingkungan perairan
Air
adalah substansi yang paling melimpah di permukaan bumi, merupakan komponen
utama bagi semua makhluk hidup, dan merupakan kekuatan utama yang secara
konstan membentuk permukaan bumi. Air juga merupakan faktor penentu dalam
pengaturan iklim di permukaan bumi untuk kebutuhan hidup manusia. (Indarto,
2010)
Salah
satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak
dapat terpisahkan adalah Air. Tidak hanya penting bagi manusia selama ini air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup
baik hewan dan tubuhan. Tanpa air dimungkinan
tidak ada kehidupan di dunia ini, karena semua makhluk hidup sangat memerlukan air untuk bertahan hidup. Jadi bukan hal yang baru jika kehidupan yang ada di dunia ini dapat terus berlangsung
karena tersedianya air yang
cukup. Air merupakan zat yang paling
penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh
kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5
hari tanpa minum air. Selain itu, pemanfatan air selama ini pada manusia meliputi untuk minum, memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran yang
ada di sekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian,
pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain.
Sekalilagi air merupakan
kebutuhan manusia yang sangat penting,
sehingga terlihat dalam sejarah berdirinya desa-desa dan kota-kota mulai jaman
dahulu sampai sekarang selalu berada di dekat sumber air ( sungai, danau,
pantai). Pada saat ini baik di Indonesia maupun di negara-negara lain di
seluruh dunia, air sudah merupakan sumber daya yang kritis baik dalam kualitas
maupun kuantitias. Maka dari itu salah satu dampak yang sangat penting dari
suatu pembangunan proyek adalah dampak pada kualitas dan kuantitas air.
Perubahan kualitas dan kuantitas air dapat terjadi karena adanya buangan bahan
organik dan anorganik ke dalam air, yang dapat larut dalam air maupun yang
tidak serta terjadinya perubahan
dalam kekuatan aliran dan siklus tata air di alam. Kesemuanya itu terjadi karena hasil dari adanya
interaksi antara makluk hidup (manusia) dengan lingkungan perairan.
2.
Kondisi lingkungan
perairan yang ada selama ini yang memungkinkan adanya interaksi manusia dengan
perairan
Air
tidak secara nyata menjadi komponen dari daur hidrologi dan oleh karenanya
banyak perencana pembangunan dalam melaksanakan kegiatannya seringkali kurang
mengantisipasi timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan sumberdaya air.
Untuk itu, pertimbangan yang lebih baik terhadap pencagaran sumberdaya air harus lebih
diperhatikan dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan (perumahan, indusrti
dan kegiatan lain yang bersifat merubah bentang lahan). Untuk usaha- usaha konservasi
air, besarnya pengambilan air untuk aktivitas industri tersebut seharusnya
dikurangi. Pemanfaatan air permukaan perlu lebih ditingkatkan, sementara
pemanfaatan air tanah diusahakan bersifat suplemen, terutama ketika berlangsung
musim kemarau panjang sehingga secara keseluruhan, ketersediaan air sepanjang
tahun cukup memadai. Selain itu, perlu juga diadakan relokasi pusat-pusat
konsentrasi industri yang saat ini berada di sekitar waduk, karena dengan hal
ini maka penggunaan air dapat berkurang.
Aktivitas
pemanfaatan lahan, antara lain, dalam bentuk pembalakan hutan, perubahan
tataguna lahan, pembuatan bangunan- bangunan konservasi tanah dan air,
pengembangan tanaman pertanian dan aktivitas lain yang bersifat mengubah
kondisi permukaan tanah, biasanya dikonsentrasikan di daerah hulu dan tengah
suatu DAS. Pemanfaatan lahan tersebut dapat meningkatkan jumlah mineral-
mineral dan komponen- komponen (organik dan non- organik) lain yang terangkut
masuk ke dalam sungai dan, pada gilirannya, dapat menimbulkan dampak yang
signifikan terhadap keseimbangan ion- ion yang ada dalam suatu DAS. Dampak yang
ditimbulkan oleh adanya pembalakan hutan adalah meningkatnya sedimentasi di
sungai yang mengalirkan air dari daerah tangkapan air yang bersangkutan sebesar
dua hingga tiga kali daripada keadaan normal. Demikian pula ketika terjadi
hujan besar pada tempat- tempat yang baru saja mengalami kebakaran hutan,
sejumlah besar komponen- komponen abu hasil pembakaran akan tercuci dan masuk
ke dalam sungai. Namun dampak kebakaran hutan pada air tanah belum banyak diketahui,
demikian pula dampaknya terhadap sumber- sumber air dan sumur. Dampak yang
ditimbulkan di tempat pembakaran adalah kesuburan tanah menjadi menurun
sedangkan konsentrasi unsur- unsur yang ada di dalam perairan meningkat, hal
ini akan merangsang tumbuh dan berkembangnya gulma air. Apabila sepanjang
penggembalaan ternak tidak dilakukan secara berlebihan (oversrazing), maka dampaknya pada perubahan konsentrasi unsur-
unsur kimia terlarut di perairan tidak terlalu siginifikan. Tetapi, ketika
ternak tersebut, terutama ternak sapi digembala dalam jumlah besar di tempat-
tempat di sekitar perairan (padang penggembala yang berada di pinggir sungai),
maka transport unsur hara melalui sistem perairan di tempat-tempat
penggembalaan tersebut meningkat tajam. Hal ini menimbulkan berkembangbiaknya
bakteri coliform di sungai dan
menyebabkan kualitas air sungai menurun.
Kondisi yang demikian yang menjadikan fakta riil di lingkungan perairan kita,
yang sekaligus di dalamnya ada interaksi antara manusia dengan lingkunan
perairan
3.
Kualitas Air
Debu, mineral-mineral atmosfer dan
berbagai macam gas banyak yang terlarut dalam air hujan yang pada gilirannya
akan menetukan status kualitas air. Mineral dan gas yang umumnya ditemukan
terlarut dalam air hujan adalah karbon, sulfur, sodium, kalsium, oksigen,
nitrogen dan silikon. Selama berlangsungnya proses intersepsi air hujan, air
lolos dan air aliran batang akan membawa serta lebih banyak bahan mineral dan
unsur-unsur organik dari tubuh vegetasi (daun dan batang/ cabang). Seiring
dengan perjalanan air yang telah bercampur dengan mineral tersebut ke permukaan
tanah, terjadilan percampuran dan pertukaran mineral dan unsur- unsur hara yang
berasal dari komponen-komponen fauna dan flora di dalam tanah. Parameter-parameter
terlarut lainnya yang biasanya dimanfaatkan untuk menentukan status kualitas
air untuk pei alam tidak memanfaatan tertentu adalah pH, toksisitas, bau dan
rasa, suhu, warna, dan unsur- unsur yang bersifat radiasi.
Kualitas
air adalah variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kehidupan biota air.
Variabel-variabel tersebut meliputi: sifat fisika (warna, kekeruhan, dan
temperatur) dan sifat kimia (kandungan oksigen, karbondioksida, pH, amoniak,
dan alkalinitas). Kualitas air permukaan secara nasional telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air
Mengenai kondisi kualitas dan
ketersediaan air di Indonesia sendiri, Indonesia memiliki potensi besar sebagai
negara yang kaya air. Hal ini dikarenakan Indonesia dianugerahi curah hujan
yang tinggi sepanjang tahun. Kondisi yang demikian membuat kebutuhan air sangat
mencukupi untuk masyarakat Indonesia. Menurut Dirjen Sumber Daya Air
Kementerian PU, Mohammad Hasan, disela-sela acara Aksi Peduli Air di Jakarta
mengungkapkan,
“ Fakta
bahwasanya Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang kaya air
tersebut tidak lantas membuat Indonesia terhindar dari krisis air bersih,
pasalnya saat musim hujan banjir dan saat musim kemarau air baku terutama alur
sungai di beberapa daerah sangat kotor dan warnanya hitam”.
Hal
ini menunjukkan bahwasanya kondisi iklim Indonesia yang ada sama sekali tidak
mejadikan jaminan mengenai kualitas air. Air yang hakikatnya sebagai kebutuhan
pokok manusia khususnya, cenderung semakin menurun akibat pencemaran air limbah
rumah tangga, perkotaan, industri dan banjir akibat kerusakan lahan dan hutan
di daerah tangkapan air.
Potensi kualitas air haruslah didasarkan pada
gambaran yang jelas mengenai berbagai sifat kualitas air yang dimiliki. Maka
dari itu untuk mengevaluasi keadaan kualitas air dan perubahan dapat
digambarkan dalam skala-mikro perlu didasarkan pada sifat-sifat tersebut.
Kualitas air
tersebut dapat digambarkan dalam sifat-sifat:
a. Fisik
b. Kimia
c. Bakteriologis
Sifat
fisik kualitas iar meliputi parameter, juga mengenai warna, bau, temperatur,
benda padat, minyak dan oli. Sifat kimia kualitas air dinyatakan dalam
parameter kandungan bahan kimia organic dan inorganik. Bebagai macam cara untuk
melihat kandungan bahan kimia organik dalam air. Pengujian yang biasanya
dipakai ialah pengukuran BOD (Biochemical
Oxygen Demand) yang didefiniskikan sebagau jumlah oksigen yang diperlukan
oleh bakteri pengurai (decompose) bahan
organic didalam suatu contoh dalam keadaan aerobic pada temperatur 20o C
selama 5 hari. Pengujian lain utnuk melihat kandungan organic dapat melalui COD
(Chemical Oxygen Demand), jumlah
karnn organic dan D.O. (Dissolved Oxygen)
atau jumlah oksigen keseluruhan. Parameter inorganic di dalam air dapat digunakan
dalam bentuk salintas, kesadahan, pH, keasaman, alkalinitas dan kandungan besi
( Fe), manganese (Mn), chlorides (CI), sulfat (SO4), sulfide (S2),
logam berat (Hg, Pb, Cr, Cu, Zn), nitrogen (organic ammonia, NH3),
nitrit (NO2), nitrat (NO3 ) dan fosfat. Keadaan salinitas
dan kandungan klorida diukur melalui kandungan garam dalam air, sifat
bakteriologis dari kualitas air dapat dilihat melalui kandungan dari kelompok
coliform, kuman-kuman patogenik dan kuman-kuman parasitic.
Disamping sifat
kualitas air yang dilihat dari sifat fisik, kimia dan bakteriologis,
kadang-kadang sering juga dilohat sifat air dalam radioaktivitas dab kandungan
pestisida. Aliran penemaran di alam yang dihubungkan dengan pemanfaatan air dan
tanah telah banyak digambarkan dalam bentuk skema diagram aliran pencemaran air
dalam siklus di alam.
4. Bentuk
Limbah yang Dihasilkan Dari Adanya Interaksi Manusia dengan Lingkungan Perairan
Dalam interaksi antara manusia dengan
lingkungan perairan, air yang hakikatnya sebagai kebutuhan pokok manusia dalam
penggunaanya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, pasti menghasilkan hasil buangan yang disebut
limbah. Air limbah atau air buangan
adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri,
tempat-tempat umum, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang
dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Menurut Sugiharto (1987), air limbah (wastewater) adalah kotoran
dari manusia dan rumah tangga serta berasal dari industri, atau air permukaan
serta buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang
bersifat kotoran umum. Berikut
macam limbah air.
a.
Air Limbah
Rumah Tangga (domestic wastes water)
Air limbah
ini berasal dari rumah tangga, misalnya pemukiman penduduk. Jenis air buangan
limbah rumah tangga adalah bekas kamar mandi, dapur yang terdiri dari bahan
organik.
b.
Air Limbah
Industri (industrial wastes water)
Air limbah
ini berasal dari industri, misalnya dari pabrik. Jenis air buangan limbah industri
ini berasal dari proses produksi pabrik, pada umumnya jenis limbah ini
berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan jika dibuang begitu saja tidak
dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Sering kita dengar kan akibat limbah
industri ini mengakibatkan kerusakan lingkungan dan ekosistemnya. Pengawasan
dan pengaturan untuk jenis limbah industri ini harus ketat agar kerusakan
lingkungan dapat dicegah.
c.
Air Limbah
Kotapraja (municipal wastes water)
Air limbah
ini berasal dari fasilitas umum, contohnya perkantoran, sekolah, restoran,
hotel dan lain-lain. Jenis air limbah ini pada umumnya sama dengan jenis limbah
rumah tangga.Salah satu faktor terbesar kerusakan lingkungan kita sekarang ini
adalah karena sistem limbah yang kurang baik, kita mendengar pernyataan pelaku
industri yang menyatakan bahwa limbah yang dibuang sudah sesuai dengan ambang
aman, namun kenyataannya banyak sekali sungai-sungai, persawahan terutama
dikota-kota besar industri tercemar dan mengakibatkan kerusakan
lingkungan.
Memang kita
maklumi bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari tingginya pertumbuhan
industri, akan tetapi jika dampak yang dihasilkan berupa air limbah yang
berbahaya adalah rusaknya lingkungan dan kesehatan manusia, maka sebetulnya
kerugianlah yang menanti kita. Jalan tengah terbaik adalah adanya kesadaran
pelaku industri dan pengawasan ketat dari pemerintah terhadap air limbah
sehingga lingkungan tetap seimbang meskipun ada air limbah.
5.
Analisis Dampak
Lingkungan (AMDAL) yang dapat dilakukan manusia dalam mengembalikan lingkungan
perairan yang telah mengalami degradasi pencemaran
Air adalah pelarut yang baik, oleh sebab
itu di dalamnya paling tidak terlarut sejumlah kecil zat-zat anorganik dan
organik (Manahan, 2000). Dengan kata lain, tidak ada air yang benar-benar murni
dan hal ini menyebabkan dalam setiap analisis air ditemukan zat-zat terlarut. Selama air mengalir di atas tanah dan sepanjang
aliran sungai, air tersebut dapat membawa nutrien, sedimen, dan polutan.
Seperti halnya dengan air, zat-zat tersebut dapat ditransport menuju sungai dan
mempengaruhi proses fisika-kimia alami selama berada di badan air penerima.
Setiap kegiatan manusia di sekitar DAS tersebut akan mempengaruhi kualitas dan
kuantitas air di sungai tersebut. Penggunaan pupuk yang mengandung nitrogen,
fosfor, kalium dapat mempengaruhi kualitas badan air tersebut. Eutrofikasi
(alga tumbuh dengan cepat) dapat terjadi karena adanya materi-materi tersebut
dalam jumlah yang berlebihan. Mineral dapat terbawa ke dalam air dan
terakumulasi sehingga dapat mengganggu keseimbangan mineral alami.
Dalam dunia bisnis dewasa ini, persaingan usaha
yang semakin ketat memaksa setiap perusahaan untuk selalu melakukan perbaikan
mutu dan inovasi terhadap setiap hasil produksinya. Akibatnya perhatian
perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan hidup semakin berkurang, bahkan bila
perlu menjadi perhatian nomor kesekian dari keseluruhan program perusahaan.
Terlepas dari keadaan demikian, ada sebuah fakta yang tidak perlu dipungkiri
lagi bahwa setiap perusahaan mempunyai peran strategis dalam mempertahankan
daya dukung lingkungan bagi kelanjutan hidup manusia. Untuk itu telah jauh-jauh
hari negara mengatur kewajiban perusahaan untuk memelihara kelestarian fungsi
lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-undang
No.23 tahun 1997.
AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan
hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan
keputusan. Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi,
sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi
kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. AMDAL adalah kajian mengenai
dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun
1999 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan).
Dalam cangkupan yang lebih sempit mengenai usaha
pelestarian lingkungan khususnya pada lingkungan perairan, yang timbul akibat
adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan perairan juga terkait interaksi
kependudukan dan pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses untuk
mempertahankan keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan (air), serta proses pengidentifikasian
dan penjabaran aspirasi masyarakat ke dalam proses penentuan sasaran
pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan harus mengindahkan batasan- batasan
dari faktor lingkungan. Perlu juga dirumuskan suatu program kependudukan yang
dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan hidup serta program pembangunan
masyarakat dengan penekanan pada keterpaduan antara sektor terkait. Hal ini
dapat dicapai dengan meningkatkan kemampuan dan peran aktif keluarga,
pengembangan operasional kebijakan keterkaitan kependudukan dan lingkungan,
meningkatkan kemampuan kelompok rentan, dan penyebaran informasi mengenai
wilayah potensial untuk tujuan migrasi. Beberapa tahun mendatang telah tercipta
etika keterkaitan kependudukan dan lingkungan dalam kehidupan masyarakat
sehari- hari. Hal ini dicapai dengan meningkatkan program pelayanan kesehatan,
dan kemampuan masyarakat untuk dapat memantau setiap perkembangan, dinamika
kependudukan serta pelaksanaan kebijakan pola mobilitas dan persebaran
penduduk.
Hakikatnya kesadaran
dan kearifan penduduk bumi dalam berperilaku baik terhadap air dan lingkungan,
akan menentukan perkembangan kondisi bumi pada akhirnya. Suatu langkah
pengurangan pencemaran telah dilakukan di beberapa negara melalui 3R-Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan
kembali) dan Recycle (daur ulang) dalam rangka menjaga
kestabilan lingkungan termasuk siklus air sebagai proses penghubung
ketersediaan air di bumi.
Daftar Pustaka
Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada
University.
Indarto. 2010. Hidrologi, Dasar Teori dan Contoh Aplikasi
Model Hidrologi. Jakarta: Bumi Aksara
Kodoatie, Robert J, dan
Sugiyanto. 2002. Banjir, Beberapa
penyebab dan Metode Pengendaliannya dalam Prespektif Lingkungan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suratmo, Gunawan. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
http://varina-larasati.blogspot.com/2013/03/makalah-pengetahuan-lingkungan.html. Diakses tanggal 27 September 2013.
http://setkab.go.id/berita-8888-kementerian-pu-kualitas-dan-kuantitas-air-di-jakarta-sudah-cukup-parah.html. Diakses tanggal 27 September 2013.
.gif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar