Selasa, 08 Oktober 2013

PAPER KELOMPOK MALING

Tugas Peper Mata Kuliah Manusia dan Lingkungan
Keterkaitan Analisis Dampak Lingkungan antara Interaksi Manusia dengan Lingkungan Perairan
Tugas ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Manusia dan Lingkungan

Dosen pengampu :Satriyo Wibowo, S.Pd.

 Disusun oleh:
1.      Denny Prastyo                           12416241036
2.      Sidhik Pawoko                           12416241037
3.      Desi Natalia                               12416141043
4.      Ary Novian Tri Uatami              12416241045
5.      Wahyu Nur Dwi Utami             12416244002

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Yogyakarta
2013
Keterkaitan Analisis Dampak Lingkungan antara Interaksi Manusia dengan Lingkungan Perairan
Pendahuluan
Dalam melangsungkan kegiatan kehidupan dan penghidupannya, manusia pada hakekatnya merupakan bagian dari alam. Manusia tidak dapat melepaskan diri dari alam dan akan selalu tergantung pada lingkungan alamnya. Karena kebutuhan untuk hidup manusia akan mengekploitasi sumber daya alam. Alam akan selalu memberi semua miliknya yang diambil manusia. Namun pada dewasa ini dengan perkembangan penduduk yang demikian pesat aktivitas untuk mengekploitasi mengarah kehabis-habisan cenderung meningkat. Manusia lebih mementingkan pemenuhan kebutuhannya tanpa melihat turunnya keseimbangan alam. Akibatnya alam membentuk keseimbangan baru yang pada intinya merugikan manusia. Degradasi lingkungan meningkat, banjir dan longsor bertambah baik secara kualitas dan kuantitas.
Pembangunan kota ataupun wilayah harus dipandang sebagai sesuatu yang integrated, comprehensive and interdependency. Jhon Muir (1994) menyimpulkan Integrated sebagai pembangunan tidak lagi sektoral dan parsial namun terpadu dalam program- programnya dan pelaksanaannya, terkoordinasi dengan semua yang terlibat sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Comprehensive (menyeluruh) berarti melibatkan semuanya dalam pembangunan, instansi pemerintah, perguruan tinggi, investor, pengembang, swasta dan masyarakat. Interdependency yaitu semua sektor dan semua disiplin saling tergantung dan tidak ada yang superior sesuai dengan program makronya (master plan) sehingga pada tahapan mikronya tidak terjadi benturan- benturan maupun konflik kepentingan. Disamping itu kegiatan dapat dilakukan dengan berdasar skala prioritas.
Contoh konkritnya: kita ingin memilih dan menganalisis satu jenis pembangunan saja (misal sistem jaringan drainase) maka ternyata drainase tersebut terikat oleh sistem jaringan transportasi, gedung- gedung, jaringan telekomunikasi, dll. Belum lagi keterkaitan sistem jaringan ini dengan disiplin ilmu lain seperti aspek- aspek sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya.
Dampak aspek pembangunan berwawasan lingkungan perlu diperhatikian bahwa sumberdaya alam bersifat terbatas namun peningkatan jumlah penduduk yang membutuhkan sumberdaya alam ini meningkat. Permasalahannya adalah mencari keseimbangan antara kemampuan sumberdaya alam dengan kebutuhan akibat peningkatan penduduk sehingga dapat dilakukan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan yang ada bukan hanya terkait pada aspek sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui saja, sekaligus sangat perlu sekali untuk di adakan pembangunan berkelanjutan, akan tetapi pembangunan berkelanjutan juga di anggap sangat perlu ditekankan pada sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Menurut berbagai pakar hidrologi, air yang terdapat di permukaan bumi ini tidak akan berkurang volumenya, hal ini dikarenakan air mengalami siklus yang berlangsung secara terus menerus. Oleh karena itu air dikatakan sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Meskipun air dikatakan sebagai SDA yang dapat diperbaharui sekaligus jumlah volumenya yang tidak akan berkurang di permukaan bumi ini, namun tidak serta merta keadaan air yang terdapat di permukaan bumi ini tidak mengalami suatu permasalahan yang serius. Hal ini justru sangat bertolak belakang dengan uraian diatas. Dewasa ini kondisi air atau perairan yang ada mengalami permasalahan yang lebih menjerungus pada aspek kualitas air. Air yang hakikatnya sebagai keputuhan pokok makluk hidup tanpa terkecuali manusia mengalami suatu penurunan terutama aspek kualitasnya, hal ini dilatarbelakangi karena adanya interaksi yang berlangsung secara terus-menerus antara yang bersangkutan makluk hidup (manusia) dengan lingkungan perairan.

Batasan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, kami memberikan suatu batasan masalah mengenai keterkaitan analisis dampak lingkungan antara interaksi manusia dengan lingkungan perairan yang meliputi, bentuk interaksi yang ada selama ini antara manusia dengan lingkungan perairan, kondisi lingkungan perairan yang ada selama ini yang memungkinkan adanya interaksi manusia dengan perairan, kondisi kualitas air yang ada, bentuk limbah yang dihasilkan dari adanya interaksi manusia dengan lingkungan perairan, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dapat dilakukan manusia dalam mengembalikan lingkungan perairan yang telah mengalami degradasi.

Pembahasan
1.    Bentuk interaksi yang ada selama ini antara manusia dengan lingkungan perairan
Air adalah substansi yang paling melimpah di permukaan bumi, merupakan komponen utama bagi semua makhluk hidup, dan merupakan kekuatan utama yang secara konstan membentuk permukaan bumi. Air juga merupakan faktor penentu dalam pengaturan iklim di permukaan bumi untuk kebutuhan hidup manusia. (Indarto, 2010)
 Salah satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak dapat terpisahkan adalah Air. Tidak hanya penting bagi manusia selama ini air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup baik hewan dan tubuhan. Tanpa air dimungkinan tidak ada kehidupan di dunia ini, karena semua makhluk hidup sangat memerlukan air untuk bertahan hidup. Jadi bukan hal yang baru jika kehidupan yang ada di dunia ini dapat terus berlangsung karena tersedianya air yang cukup. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, pemanfatan air selama ini pada manusia meliputi untuk minum, memasak, mencuci, mandi, dan membersihkan kotoran yang ada di sekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain.
Sekalilagi air merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting, sehingga terlihat dalam sejarah berdirinya desa-desa dan kota-kota mulai jaman dahulu sampai sekarang selalu berada di dekat sumber air ( sungai, danau, pantai). Pada saat ini baik di Indonesia maupun di negara-negara lain di seluruh dunia, air sudah merupakan sumber daya yang kritis baik dalam kualitas maupun kuantitias. Maka dari itu salah satu dampak yang sangat penting dari suatu pembangunan proyek adalah dampak pada kualitas dan kuantitas air. Perubahan kualitas dan kuantitas air dapat terjadi karena adanya buangan bahan organik dan anorganik ke dalam air, yang dapat larut dalam air maupun yang tidak serta terjadinya perubahan dalam kekuatan aliran dan siklus tata air di alam. Kesemuanya itu terjadi karena hasil dari adanya interaksi antara makluk hidup (manusia) dengan lingkungan perairan.
2.    Kondisi lingkungan perairan yang ada selama ini yang memungkinkan adanya interaksi manusia dengan perairan
Air tidak secara nyata menjadi komponen dari daur hidrologi dan oleh karenanya banyak perencana pembangunan dalam melaksanakan kegiatannya seringkali kurang mengantisipasi timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan sumberdaya air. Untuk itu, pertimbangan yang lebih baik terhadap pencagaran sumberdaya air harus lebih diperhatikan dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan (perumahan, indusrti dan kegiatan lain yang bersifat merubah bentang lahan). Untuk usaha- usaha konservasi air, besarnya pengambilan air untuk aktivitas industri tersebut seharusnya dikurangi. Pemanfaatan air permukaan perlu lebih ditingkatkan, sementara pemanfaatan air tanah diusahakan bersifat suplemen, terutama ketika berlangsung musim kemarau panjang sehingga secara keseluruhan, ketersediaan air sepanjang tahun cukup memadai. Selain itu, perlu juga diadakan relokasi pusat-pusat konsentrasi industri yang saat ini berada di sekitar waduk, karena dengan hal ini maka penggunaan air dapat berkurang.
Aktivitas pemanfaatan lahan, antara lain, dalam bentuk pembalakan hutan, perubahan tataguna lahan, pembuatan bangunan- bangunan konservasi tanah dan air, pengembangan tanaman pertanian dan aktivitas lain yang bersifat mengubah kondisi permukaan tanah, biasanya dikonsentrasikan di daerah hulu dan tengah suatu DAS. Pemanfaatan lahan tersebut dapat meningkatkan jumlah mineral- mineral dan komponen- komponen (organik dan non- organik) lain yang terangkut masuk ke dalam sungai dan, pada gilirannya, dapat menimbulkan dampak yang signifikan terhadap keseimbangan ion- ion yang ada dalam suatu DAS. Dampak yang ditimbulkan oleh adanya pembalakan hutan adalah meningkatnya sedimentasi di sungai yang mengalirkan air dari daerah tangkapan air yang bersangkutan sebesar dua hingga tiga kali daripada keadaan normal. Demikian pula ketika terjadi hujan besar pada tempat- tempat yang baru saja mengalami kebakaran hutan, sejumlah besar komponen- komponen abu hasil pembakaran akan tercuci dan masuk ke dalam sungai. Namun dampak kebakaran hutan pada air tanah belum banyak diketahui, demikian pula dampaknya terhadap sumber- sumber air dan sumur. Dampak yang ditimbulkan di tempat pembakaran adalah kesuburan tanah menjadi menurun sedangkan konsentrasi unsur- unsur yang ada di dalam perairan meningkat, hal ini akan merangsang tumbuh dan berkembangnya gulma air. Apabila sepanjang penggembalaan ternak tidak dilakukan secara berlebihan (oversrazing), maka dampaknya pada perubahan konsentrasi unsur- unsur kimia terlarut di perairan tidak terlalu siginifikan. Tetapi, ketika ternak tersebut, terutama ternak sapi digembala dalam jumlah besar di tempat- tempat di sekitar perairan (padang penggembala yang berada di pinggir sungai), maka transport unsur hara melalui sistem perairan di tempat-tempat penggembalaan tersebut meningkat tajam. Hal ini menimbulkan berkembangbiaknya bakteri coliform di sungai dan menyebabkan kualitas air sungai menurun. Kondisi yang demikian yang menjadikan fakta riil di lingkungan perairan kita, yang sekaligus di dalamnya ada interaksi antara manusia dengan lingkunan perairan
3.    Kualitas Air
Debu, mineral-mineral atmosfer dan berbagai macam gas banyak yang terlarut dalam air hujan yang pada gilirannya akan menetukan status kualitas air. Mineral dan gas yang umumnya ditemukan terlarut dalam air hujan adalah karbon, sulfur, sodium, kalsium, oksigen, nitrogen dan silikon. Selama berlangsungnya proses intersepsi air hujan, air lolos dan air aliran batang akan membawa serta lebih banyak bahan mineral dan unsur-unsur organik dari tubuh vegetasi (daun dan batang/ cabang). Seiring dengan perjalanan air yang telah bercampur dengan mineral tersebut ke permukaan tanah, terjadilan percampuran dan pertukaran mineral dan unsur- unsur hara yang berasal dari komponen-komponen fauna dan flora di dalam tanah. Parameter-parameter terlarut lainnya yang biasanya dimanfaatkan untuk menentukan status kualitas air untuk pei alam tidak memanfaatan tertentu adalah pH, toksisitas, bau dan rasa, suhu, warna, dan unsur- unsur yang bersifat radiasi.
Kualitas air adalah variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kehidupan biota air. Variabel-variabel tersebut meliputi: sifat fisika (warna, kekeruhan, dan temperatur) dan sifat kimia (kandungan oksigen, karbondioksida, pH, amoniak, dan alkalinitas). Kualitas air permukaan secara nasional telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
Mengenai kondisi kualitas dan ketersediaan air di Indonesia sendiri, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang kaya air. Hal ini dikarenakan Indonesia dianugerahi curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Kondisi yang demikian membuat kebutuhan air sangat mencukupi untuk masyarakat Indonesia. Menurut Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PU, Mohammad Hasan, disela-sela acara Aksi Peduli Air di Jakarta mengungkapkan,
“ Fakta bahwasanya Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang kaya air tersebut tidak lantas membuat Indonesia terhindar dari krisis air bersih, pasalnya saat musim hujan banjir dan saat musim kemarau air baku terutama alur sungai di beberapa daerah sangat kotor dan warnanya hitam”.
Hal ini menunjukkan bahwasanya kondisi iklim Indonesia yang ada sama sekali tidak mejadikan jaminan mengenai kualitas air. Air yang hakikatnya sebagai kebutuhan pokok manusia khususnya, cenderung semakin menurun akibat pencemaran air limbah rumah tangga, perkotaan, industri dan banjir akibat kerusakan lahan dan hutan di daerah tangkapan air.
Potensi  kualitas air haruslah didasarkan pada gambaran yang jelas mengenai berbagai sifat kualitas air yang dimiliki. Maka dari itu untuk mengevaluasi keadaan kualitas air dan perubahan dapat digambarkan dalam skala-mikro perlu didasarkan pada sifat-sifat tersebut.
Kualitas air tersebut dapat digambarkan dalam sifat-sifat:
a.       Fisik
b.      Kimia
c.       Bakteriologis
Sifat fisik kualitas iar meliputi parameter, juga mengenai warna, bau, temperatur, benda padat, minyak dan oli. Sifat kimia kualitas air dinyatakan dalam parameter kandungan bahan kimia organic dan inorganik. Bebagai macam cara untuk melihat kandungan bahan kimia organik dalam air. Pengujian yang biasanya dipakai ialah pengukuran BOD (Biochemical Oxygen Demand) yang didefiniskikan sebagau jumlah oksigen yang diperlukan oleh bakteri pengurai (decompose) bahan organic didalam suatu contoh dalam keadaan aerobic pada temperatur 20o C selama 5 hari. Pengujian lain utnuk melihat kandungan organic dapat melalui COD (Chemical Oxygen Demand), jumlah karnn organic dan D.O. (Dissolved Oxygen) atau jumlah oksigen keseluruhan. Parameter inorganic di dalam air dapat digunakan dalam bentuk salintas, kesadahan, pH, keasaman, alkalinitas dan kandungan besi ( Fe), manganese (Mn), chlorides (CI), sulfat (SO4), sulfide (S2), logam berat (Hg, Pb, Cr, Cu, Zn), nitrogen (organic ammonia, NH3), nitrit (NO2), nitrat (NO3 ) dan fosfat. Keadaan salinitas dan kandungan klorida diukur melalui kandungan garam dalam air, sifat bakteriologis dari kualitas air dapat dilihat melalui kandungan dari kelompok coliform, kuman-kuman patogenik dan kuman-kuman parasitic.
Disamping sifat kualitas air yang dilihat dari sifat fisik, kimia dan bakteriologis, kadang-kadang sering juga dilohat sifat air dalam radioaktivitas dab kandungan pestisida. Aliran penemaran di alam yang dihubungkan dengan pemanfaatan air dan tanah telah banyak digambarkan dalam bentuk skema diagram aliran pencemaran air dalam siklus di alam.

4.      Bentuk Limbah yang Dihasilkan Dari Adanya Interaksi Manusia dengan Lingkungan Perairan
Dalam interaksi antara manusia dengan lingkungan perairan, air yang hakikatnya sebagai kebutuhan pokok manusia dalam penggunaanya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, pasti menghasilkan hasil buangan yang disebut limbah. Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri, tempat-tempat umum, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Menurut Sugiharto (1987), air limbah (wastewater) adalah kotoran dari manusia dan rumah tangga serta berasal dari industri, atau air permukaan serta buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum. Berikut macam limbah air.
a.       Air Limbah Rumah Tangga (domestic wastes water
Air limbah ini berasal dari rumah tangga, misalnya pemukiman penduduk. Jenis air buangan limbah rumah tangga adalah bekas kamar mandi, dapur yang terdiri dari bahan organik.
b.      Air Limbah Industri (industrial wastes water)
Air limbah ini berasal dari industri, misalnya dari pabrik. Jenis air buangan limbah industri ini berasal dari proses produksi pabrik, pada umumnya jenis limbah ini berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan jika dibuang begitu saja tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Sering kita dengar kan akibat limbah industri ini mengakibatkan kerusakan lingkungan dan ekosistemnya. Pengawasan dan pengaturan untuk jenis limbah industri ini harus ketat agar kerusakan lingkungan dapat dicegah.
c.        Air Limbah Kotapraja (municipal wastes water)
Air limbah ini berasal dari fasilitas umum, contohnya perkantoran, sekolah, restoran, hotel dan lain-lain. Jenis air limbah ini pada umumnya sama dengan jenis limbah rumah tangga.Salah satu faktor terbesar kerusakan lingkungan kita sekarang ini adalah karena sistem limbah yang kurang baik, kita mendengar pernyataan pelaku industri yang menyatakan bahwa limbah yang dibuang sudah sesuai dengan ambang aman, namun kenyataannya banyak sekali sungai-sungai, persawahan terutama dikota-kota besar industri tercemar dan mengakibatkan kerusakan lingkungan. 
Memang kita maklumi bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari tingginya pertumbuhan industri, akan tetapi jika dampak yang dihasilkan berupa air limbah yang berbahaya adalah rusaknya lingkungan dan kesehatan manusia, maka sebetulnya kerugianlah yang menanti kita. Jalan tengah terbaik adalah adanya kesadaran pelaku industri dan pengawasan ketat dari pemerintah terhadap air limbah sehingga lingkungan tetap seimbang meskipun ada air limbah.
5.      Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dapat dilakukan manusia dalam mengembalikan lingkungan perairan yang telah mengalami degradasi pencemaran
Air adalah pelarut yang baik, oleh sebab itu di dalamnya paling tidak terlarut sejumlah kecil zat-zat anorganik dan organik (Manahan, 2000). Dengan kata lain, tidak ada air yang benar-benar murni dan hal ini menyebabkan dalam setiap analisis air ditemukan zat-zat terlarut. Selama air mengalir di atas tanah dan sepanjang aliran sungai, air tersebut dapat membawa nutrien, sedimen, dan polutan. Seperti halnya dengan air, zat-zat tersebut dapat ditransport menuju sungai dan mempengaruhi proses fisika-kimia alami selama berada di badan air penerima. Setiap kegiatan manusia di sekitar DAS tersebut akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas air di sungai tersebut. Penggunaan pupuk yang mengandung nitrogen, fosfor, kalium dapat mempengaruhi kualitas badan air tersebut. Eutrofikasi (alga tumbuh dengan cepat) dapat terjadi karena adanya materi-materi tersebut dalam jumlah yang berlebihan. Mineral dapat terbawa ke dalam air dan terakumulasi sehingga dapat mengganggu keseimbangan mineral alami.
Dalam dunia bisnis dewasa ini, persaingan usaha yang semakin ketat memaksa setiap perusahaan untuk selalu melakukan perbaikan mutu dan inovasi terhadap setiap hasil produksinya. Akibatnya perhatian perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan hidup semakin berkurang, bahkan bila perlu menjadi perhatian nomor kesekian dari keseluruhan program perusahaan. Terlepas dari keadaan demikian, ada sebuah fakta yang tidak perlu dipungkiri lagi bahwa setiap perusahaan mempunyai peran strategis dalam mempertahankan daya dukung lingkungan bagi kelanjutan hidup manusia. Untuk itu telah jauh-jauh hari negara mengatur kewajiban perusahaan untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-undang No.23 tahun 1997.
AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan. Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Dalam cangkupan yang lebih sempit mengenai usaha pelestarian lingkungan khususnya pada lingkungan perairan, yang timbul akibat adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan perairan juga terkait interaksi kependudukan dan pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses untuk mempertahankan keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan (air), serta proses pengidentifikasian dan penjabaran aspirasi masyarakat ke dalam proses penentuan sasaran pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan harus mengindahkan batasan- batasan dari faktor lingkungan. Perlu juga dirumuskan suatu program kependudukan yang dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan hidup serta program pembangunan masyarakat dengan penekanan pada keterpaduan antara sektor terkait. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kemampuan dan peran aktif keluarga, pengembangan operasional kebijakan keterkaitan kependudukan dan lingkungan, meningkatkan kemampuan kelompok rentan, dan penyebaran informasi mengenai wilayah potensial untuk tujuan migrasi. Beberapa tahun mendatang telah tercipta etika keterkaitan kependudukan dan lingkungan dalam kehidupan masyarakat sehari- hari. Hal ini dicapai dengan meningkatkan program pelayanan kesehatan, dan kemampuan masyarakat untuk dapat memantau setiap perkembangan, dinamika kependudukan serta pelaksanaan kebijakan pola mobilitas dan persebaran penduduk.
Hakikatnya kesadaran dan kearifan penduduk bumi dalam berperilaku baik terhadap air dan lingkungan, akan menentukan perkembangan kondisi bumi pada akhirnya. Suatu langkah pengurangan pencemaran telah dilakukan di beberapa negara melalui 3R-Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (daur ulang) dalam rangka menjaga kestabilan lingkungan termasuk siklus air sebagai proses penghubung ketersediaan air di bumi.

Daftar Pustaka
Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:  Gadjah Mada University.
Indarto. 2010. Hidrologi, Dasar Teori dan Contoh Aplikasi Model Hidrologi. Jakarta: Bumi Aksara
Kodoatie, Robert J, dan Sugiyanto. 2002. Banjir, Beberapa penyebab dan Metode Pengendaliannya dalam Prespektif Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suratmo, Gunawan. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar